Bismillah.
Segala Puji Bagi Allah atas segala nikmatnya mempertemukan kita dengan bulan Sya’ban. Semoga menyampaikan diri kita pada Ramadhan.Shalawat senantiasa tercurah kepada junjungan kita Rasulullah Muhammad SAW. Dan juga kepada para Sahabat, keluarga dan orang-orang yang senantiasa istiqomah menyampaikan sunnah-sunnah beliau. Dan memegang nafas keimanan hingga akhir hayat.
Ramadhan adalah bulan
teristimewa dibandingkan bulan-bulan lainnya. Bulan ini adalah bulan yang
dinanti oleh kaum muslim. Sebagaimana kegundahan umat Rasulullah Muhammad SAW.
Tentang panjnagnya umur kaum Rasul-rasul terdahulu. Maka Allah menganugerahkan
kepada kita bulan yang istimewa dan didalamnya terdapat satu malam istimewa
yaitu malam Lailatul Qadar. Malam seribu bulan, satu malam yang memiliki bobot
sama dengan seribu bulan.
Sahabat tentunya dalam
perjalanan Ramadhan kita perlu bekal untuk menggapai nikmatnya Ramadhan.
Sebagaimana seorang musafir yang hendak pergi ke negeri seberang, tentunya ia
harus membawa bekal yang cukup agar tidak tumbang di tengah perjalanan. Kali
ini say insya Allah ingin berbagi tips bagaimana mempersiapkan Ramadhan yang
Powerfull.
Pertama,
berdoa kepada Allah, sebagaimana yang dicontohkan para ulama salafusshalih.
Mereka berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar dipertemukan dengan bulan
Ramadhan sejak enam bulan sebelumnya, dan selama enam bulan berikutnya mereka
berdoa agar puasanya diterima Allah Subhanahu wa Ta’ala. Berjumpa dengan bulan
ini merupakan nikmat yang besar bagi orang-orang yang dianugerahi taufik oleh
Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Mu’alla
bin al-Fadhl berkata, “Dulunya para salaf berdoa kepada Allah Ta’ala (selama)
enam bulan agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan, kemudian
mereka berdoa kepada-Nya (selama) enam bulan berikutnya agar Dia menerima
(amal-amal shaleh) yang mereka kerjakan” (Lathaif Al-Ma’aarif: 174)
Diantara doa mereka itu
adalah: “Ya Allah, serahkanlah aku kepada
Ramadhan dan serahkan Ramadhan kepadaku dan Engkau menerimanya kepadaku dengan
kerelaan”. Dan doa yang populer: “Ya Allah, berkatilah kami di bulan Rajab dan
Sya’ban, serta sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan”.
Kedua,
menuntaskan puasa tahun lalu. Sudah seharusnya kita mengqadha puasa sesegera
mungkin sebelum datang Ramadhan berikutnya. Namun kalau seseorang mempunyai
kesibukan atau halangan tertentu untuk mengqadhanya seperti seorang ibu yang
hamil dan yang sibuk menyusui anaknya, maka hendaklah ia menuntaskan hutang
puasa tahun lalu pada bulan Sya’ban. Sebagaimana Aisyah r.a tidak bisa
mengqadha puasanya kecuali pada bulan Sya’ban. Menunda qadha puasa dengan
sengaja tanpa ada uzur syar’i sampai masuk Ramadhan berikutnya adalah dosa,
maka kewajibannya adalah tetap mengqadha, dan ditambah kewajiban membayar
fidyah menurut sebagian ulama.
Ketiga,
persiapan keilmuan. Hanya dengan ilmu kita dapat mengetahui cara beribadah
dengan benar yaitu sesuai dengan sunnah (petunjuk) Rasulullah shallalahu alaihi
wa sallam. Mu’adz bin Jabal r.a berkata:
“Hendaklah kalian memperhatikan ilmu, karena mencari ilmu karena Allah adalah
ibadah”. Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah mengomentari atsar diatas, “Orang yang berilmu mengetahui
tingkatan-tingkatan ibadah, perusak-perusak amal, dan hal-hal yang
menyempurnakannya dan apa-apa yang menguranginya”.
Oleh karena itu, suatu
ibadah tanpa dilandasi ilmu, maka kerusakannya lebih banyak daripada
kebaikannya. Ibadah tanpa mengikuti petunjuk Rasulullah shallalahu alaihi wa
sallam disebut bid’ah, hukumnya haram dan tidak akan diterima Allah Subhanahu
wa Ta’ala. Rasulullah shallalahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mengada-adakan urusan baru
dalam urusan (agama) kami ini, yang bukan berasal daripadanya, maka amalannya
ditolak” (HR. Bukhari dan Miuslim). Dalam riwayat lain, Nabi saw bersabda:
“Barangsiapa yang melakukan suatu amalan
yang bukan berasal dari petunjuk kami, maka amalannya ditolak”. (HR.
Muslim)
Ibadah tanpa petunjuk
Rasul shallalahu alaihi wa sallam tidak hanya ditolak, namun juga menuai murka
Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasul shallalahu alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya barangsiapa yang hidup setelahku
maka dia akan melihat banyak perselisihan, maka wajib bagi kalian untuk
mengikuti sunnahku dan sunnah para khulafaaur rasyidin yang mendapat petunjuk
setelahku, berpegang teguhlah dengan sunnah-sunnah tersebut, dan gigitlah ia
dengan geraham kalian. Dan hati-hatilah kalian terhadap perkara-perkara baru,
karena semua perkara baru adalah bid’ah dan semua bid’ah adalah kesesatan“.
(HR. Abu Daud dan At-Tirmizi)
Menuntut ilmu akidah
dan ibadah hukumnya wajib. Suatu ibadah akan diterima oleh Allah Subhanahu wa
Ta’ala bila dikerjakan sesuai dengan ikhlas dan sesuai petunjuk Rasul
shallalahu alaihi wa sallam. Maka, menjelang Ramadhan ini sudah sepatutnya kita
untuk mempersiapkan keilmuan kita dengan membaca kitab/buku mengenai fikih
puasa dan ibadah lain yang berkaitan dengan Ramadhan seperti shalat tarawih,
i’tikaf dan lainnya.
Kempat,
persiapan jiwa dan mental. Persiapan ini penting dilakukan, agar jiwa kita siap
untuk beribadah dengan full time dan optimal pada bulan Ramadhan. Caranya,
dengan memperbanyak ibadah-ibadah di bulan sebelumnya (minimal di bulan
Sya’ban) dengan puasa sunnat Senin dan Kamis, puasa hari ke 13, 14, dan 15
pertengahan bulan hijriah yang dikenal dengan puasa ayyamul bidh (hari-hari
putih), dan puasa Nabi Daud yaitu sehari berpuasa dan sehari berbuka. Terlebih
lagi pada bulan Sya’ban kita sangat dianjurkan memperbanyak puasa sunnat,
sesuai dengan sunnah Rasulullah shallalahu alaihi wa sallam.
Aisyah r.a berkata: “Aku belum pernah melihat Nabi saw berpuasa
sebulan penuh kecuali bulan Ramadhan, dan aku belum pernah melihat Nabi saw
berpuasa (sunnat) sebanyak yang ia lakukan di bulan Sya’ban. (HR. Muslim).
Adapun pengkhususan
ibadah seperti shalat malam atau puasa pada nisfu (pertengahan) sya’ban dengan
menyangka bahwa ia memiliki keutamaan, maka menurut para ulama besar perbuatan
itu merupakan bid’ah yang dilarang dalam agama, karena tidak ada dalil shahih
yang mensyariatkannya. Menurut para ulama besar, dalil yang dijadikan sandaran
mengenai keutamaan nisfu sya’ban adalah hadits dhaif (lemah), bahkan maudhu’
(palsu).Imam Ibnu Al-Jauzi memasukkan hadits-hadits mengenai keutamaan nishfu
Sya’ban ke dalam kitabnya Al-Maudhu’at (hadits-hadits palsu).
Al-Mubarakfuri berkata,
“Saya tidak mendapatkan hadits marfu’
yang shahih tentang puasa pada pertengahan bulan Sya’ban. Adapun hadits
keutamaan nisfu Sya’ban yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah saya telah mengetahui
bahwa hadits ini adalah hadits sangat lemah” (Tuhfah Al-Ahwazi: 3/444).
Syaikh Shalih bin
Fauzan berkata, “Adapun hadits-hadits
yang terdapat dalam masalah ini (keutamaan nisfu Sya’ban), semuanya adalah
hadits palsu sebagaimana dikemukakan oleh para ulama. Akan tetapi bagi orang
yang memiliki kebiasaan berpuasa pada ayyamul bidh (tanggal 14, 15, 16), maka
ia boleh melakukan puasa pada bulan Sya’ban seperti bulan-bulan lainnya tanpa
mengkhususkan hari itu saja.”
Syaikh Sayyid Sabiq
berkata, “Mengkhususkan puasa pada hari
nisfu Sya’ban dengan menyangka bahwa hari-hari tersbut memiliki keutamaan dari
pada hari lainnya, tidak memiliki dalil yang shahih” (Fiqh As-Sunnah:
1/416).
Termasuk persiapan jiwa
dan mental yaitu dengan cara membiasakan diri melakukan shalat-shalat sunnat
dan memperbanyak membaca Al-Quran sebelum kedatangan Ramadhan, agar kita
terbiasa melakukannya sehingga memudahkan kita dalam melaksanakan ibadah-ibadah
tersebut pada bulan Ramadhan nantinya.
Kelima,
persiapan fisik yaitu menjaga kesehatan. Persiapan fisik agar tetap sehat dan
kuat di bulan Ramadhan sangat penting. Kesehatan merupakan modal utama dalam
beribadah. Bila kita sehat, maka kita dapat melakukan ibadah dengan baik dan
optimal. Namun bila kita sakit, maka ibadah kitaterganggu.Rasul shallalahu
alaihi wa sallam bersabda, “Pergunakanlah
kesempatan yang lima sebelum datang yang lima; masa mudamu sebelum masa tuamu,
masa sehatmu sebelum masa sakitmu, masa kayamu sebelum masa miskinmu, masa luangmu
sebelum masa sibukmu, dan masa hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR.
Al-Hakim) Maka, untuk meyambut Ramadhan kita harus menjaga kesehatan dan
stamina dengan cara menjaga pola makan yang sehat dan bergizi, dan istirahat
cukup.
Keenam,
persiapan dana. Pada bulan Ramadhan ini setiap muslim dianjurkan memperbanyak
amal shalih seperti infaq, shadaqah dan ifthar (memberi bukaan).Maka, sebaiknya
dibuat sebuah agenda maliah (keuangan) yang mengalokasikan dana untuk shadaqah,
infaq serta memberi ifhtarselama bulan Ramadhan. Moment Ramadhan merupakan
moment yang paling tepat dan utama untuk menyalurkan ibadah maliah kita, karena
mengikuti sunnah Rasul saw. Ibnu Abbas r.a berkata, “Nabi Saw adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan
pada bulan Ramadhan.” (H.R Bukhari dan Muslim). Termasuk dalam persiapan
maliah adalah mempersiapkan dana untuk berbuka puasa dan sahur. Begitu pula
persiapan dana untuk keluarga selama i’tikaf, agar dapat beri’tikaf dengan baik
tanpa memikirkan beban ekonomi untuk keluarga.
Ketujuh,
menyelenggarakan tarhib Ramadhan. Di samping persiapan secara individual, kita
juga hendaknya melakukan persiapan secara kolektif, di antaranya adalah
melakukan tarhib Ramadhan. Tarhib Ramadhan adalah mengumpulkan kaum muslimin di
masjid atau di tempat lain untuk diberi pengarahan seputar puasa Ramadhan,
adab-adabnya, syarat dan rukunnya, hal-hal yang membatalkannya atau amal ibadah
lainnya yang dapat kita lakukan secara maksimal di bulan Ramadhan. Hal ini
sebagaimana yang dilakukan Rasulullah Saw ketika memasuki bulan Ramadhan,
beliau memberikan penjelasan mengenai puasa dan keutamaan Ramadhan kepada para
shahabat.
Rasul shallalahu alaihi
wa sallam juga memberi kabar gembira akan kedatangan bulan Ramadhan dengan
menjelaskan berbagai keutamaannya. Abu Hurairah r.a ia berkata, “Menjelang
kedatangan bulan Ramadhan, Rasulullah shallalahu alaihi wa sallam bersabda, “Telah datang kepada kalian bulan yang
diberkahi. Diwajibkan kepada kalian berpuasa padanya. Pada bulan tersebut
pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, syaithan-syaithan
dibelunggu. Padanya juga terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu
bulan, barangsiapa yang terhalang kebaikan pada malam itu, maka ia telah
terhalang dari kebaikan tersebut.” (HR. Ahmad, An-Nasa’i dan Al-Baihaqi).
Selain hadits ini, banyak hadits lain yang menjelaskan tentang keutamaan
Ramadhan. Hal ini dilakukan oleh Rasulullah shallalahu alaihi wa sallam untuk
memberi motivasi dan semangat kepada umat Islam dalam beribadah di bulan Ramadhan.
Pada Akhirnya marilah
kita sambut ramadhan yang mubarok. Semoga kita menjadi hamba yang menang
nantinya di penghujung Ramadhan
Sumber : http://www.arrahmah.com/news/2014/06/04/mempersiapkan-diri-menyambut-ramadhan.html
kami adalah agen kurma semarang hubungi kami grosir kurma semarang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar